Karimun – Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tanjung Balai Karimun menunjukkan aksi nyata toleransi dan kepedulian lingkungan.
Melalui Pos Bintara Pembina Potensi Maritim (Posbinter) Meral, Lanal TBK menggandeng Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Kabupaten Karimun melaksanakan aksi bakti sosial pembersihan tempat ibadah di Vihara Cetya Vidya Sagara, Kamis, 12 Februari 2026.
Kegiatan yang berlangsung khidmat sejak pukul 09.00 WIB ini menyasar seluruh area vihara yang terletak di Jl. Jendral Ahmad Yani, Meral Kota. Sinergi antara prajurit TNI AL dan pengurus INTI terlihat kental saat mereka bahu-membahu membersihkan mulai dari lantai satu yang digunakan untuk ibadah harian, hingga lantai tiga tempat penyimpanan perlengkapan ritual.
Komandan Lanal Tanjung Balai Karimun, Letkol Laut (P) Samuel C. Noya, dalam keterangannya menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi bersih-bersih biasa, melainkan simbol kuatnya persaudaraan di Bumi Berazam.
“Kegiatan Bhakti Sosial ini adalah wujud nyata kemanunggalan TNI Angkatan Laut dengan rakyat. Kami ingin memastikan saudara-saudara kita etnis Tionghoa dapat merayakan Imlek dengan suasana yang bersih, nyaman, dan khidmat,” ujar Letkol Laut (P) Samuel C. Noya.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan INTI Karimun merupakan bentuk sinergitas lintas sektoral untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama.
“TNI AL hadir bukan hanya untuk kedaulatan di laut, tapi juga sebagai pelindung dan pelayan masyarakat di darat. Semangat gotong royong inilah yang menjadi fondasi kekuatan bangsa kita dalam menjaga keberagaman,” tegas Danlanal.
Dipimpin langsung oleh Danposbinter Meral, Lettu Laut (T) Seken Damato Satria, bersama Koordinator INTI Wilayah Karimun, Bapak Agus Setiawarman (Awan), sektor pembersihan dibagi secara efisien.
Agus Setiawarman memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Lanal TBK. Menurutnya, kehadiran TNI AL memberikan energi positif dan semangat kebersamaan bagi warga dalam menyambut tahun baru 2577 Kongzili.
Kegiatan yang berakhir pada pukul 11.00 WIB ini meninggalkan kesan mendalam bagi warga sekitar, membuktikan bahwa perbedaan keyakinan justru menjadi perekat dalam bingkai gotong royong yang harmonis.
