Petugas memadamkan api yang membakar lahan. Foto: Istimewa
Karimun – Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Kabupaten Karimun mencatat penurunan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan sepanjang triwulan II Tahun 2026.
Terhitung sejak April hingga Juni 2026 terdapat 21 kasus karhutla yang terjadi. Selain itu tercatat 89 kasus evakuasi atau penyelematan, baik terkait dengan ular maupun lebah.
Jika dibanding pada triwulan I 2026 lalu setidaknya ada 191 kasus karhutla. Jumlah tersebut menurun signifikan hingga 89 persen pada periode tiga bulan lalu.
Kabid Penyelamatan dan Damkar Karimun, Hendra Hidayat, menyebutkan kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El-Nino.
“Kita memang masih diuntungkan, El Nino terjadi di awal tahun kemarin. Tempat lain di Sumatra sudah mengeluarkan status karhutla, tapi kita diuntungkan. Meskipun sekarang masih terasa, cuma besarnya memang di triwulan I kemarin,” ujar Hendra, Kamis, 6 Agustus 2026.
Hendra menjelaskan, mayoritas kebakaran dipicu oleh aktivitas pembakaran lahan semak secara sengaja. Luas area yang terbakar bervariasi, mulai dari 500 meter persegi hingga 1 hektare per peristiwa, dengan total luas terdampak mencapai puluhan hektare.
Insiden kebakaran ini sebagian besar mendominasi di wilayah Pulau Karimun Besar.
Selain menangani karhutla, pihak Damkar Karimun juga mencatat sebanyak 89 kasus evakuasi dan penyelamatan non-kebakaran selama triwulan II 2026, seperti penanganan gangguan ular hingga sarang lebah.
Menyikapi potensi karhutla yang masih ada, Hendra mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar secara sembarangan.
“Untuk masyarakat, jangan bakar sembarangan. Kalau memang harus (membakar), tetap dijaga dan jangan dibiarkan atau ditinggalkan begitu saja,” tegasnya.
Tak hanya itu, pihak Damkar Karimun juga berharap ada peran aktif dan tindakan tegas dari aparat penegak hukum (APH) untuk memberikan efek jera (shock therapy) kepada para pelaku pembakaran lahan.
“Kami berharap semoga APH bisa memberikan shock therapy, karena selama ini kita hanya fokus melakukan penanggulangan saja,” pungkas Hendra.
