IMG-20260616-WA0019_11zon

Bupati Karimun, Iskandarsyah, membuka pawai obor peringatan 1 Muharram di Kundur Barat. Foto: Istimewa

Kundur – Malam di Kelurahan Sawang, Kecamatan Kundur Barat, mendadak benderang. Bukan oleh pendar lampu merkuri, melainkan oleh lidah-lidah api dari ribuan bilah bambu yang dibawa berjalan membelah malam.

Pada Minggu malam, 14 Juni 2026, ribuan warga tumpah ke jalan, menyongsong datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah dengan sebuah tradisi yang mengakar kuat. Pawai Obor.

Iring-iringan yang bergerak dari Masjid Nurussalam Mukalimus dan berakhir di Masjid Besar Nuruddin ini bukan sekadar parade visual.

Di balik jelaga dan aroma minyak tanah yang khas, ada denyut kearifan lokal yang terus dijaga agar tidak padam digerus zaman. Bagi masyarakat Karimun, pawai obor adalah simbol syiar, gotong royong, dan pengingat akan semangat hijrah menuju kebaikan.

Di tengah gempuran gawai dan hiburan digital, melihat anak-anak, remaja, hingga orang tua berjalan kaki bersama memegang obor adalah pemandangan yang menyentuh. Kehadiran Bupati Karimun, Iskandarsyah, di tengah kerumunan warga semakin menambah bobot sakralnya acara tahunan ini.

“Pawai obor ini bukan sekadar tradisi, melainkan syiar agama yang menyatukan kita. Mari jadikan 1 Muharam ini sebagai momentum introspeksi, memperkuat ukhuwah, memelihara kerukunan, serta terus bergotong royong,” ujar Bupati Iskandarsyah di sela-sela acara.

Bagi masyarakat Melayu Karimun, tradisi ini adalah perekat sosial. Proses pembuatan obor yang dilakukan bersama-sama beberapa hari sebelum acara menjadi ruang komunal di mana warga saling bertukar cerita, mempererat silaturahmi, dan menghidupkan kembali ruh gotong royong yang mulai langka di perkotaan.

Ada pesan mendalam yang dibawa Bupati dalam momentum hijrah tahun ini. Menatap Masjid Besar Nuruddin yang menjadi titik akhir pawai, Iskandarsyah mengingatkan bahwa esensi pembangunan daerah terletak pada manusianya, dan masjid adalah laboratorium terbaik untuk itu.

Bupati mendorong agar masjid di Kabupaten Karimun dikembalikan fungsinya sebagai pusat peradaban, bukan sekadar tempat ibadah ritual yang sepi di luar jam salat.

Momentum ini menjadi tempat pembentukan karakter dan benteng moral generasi muda menghadapi tantangan zaman serta menghidupkan kembali tradisi mengaji, diskusi, dan kajian ilmu.

“Masjid bukan sekadar warisan masa lalu yang hanya dirawat secara fisik. Masjid adalah ruang masa depan, tempat di mana karakter dibentuk,” tegas Iskandarsyah.

Ia menambahkan bahwa kemegahan infrastruktur tidak akan berarti apa-apa jika tidak diimbangi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang berakhlak mulia.

Ketika api obor satu per satu mulai padam seiring berakhirnya acara, ada satu api yang diharapkan tetap menyala di dada masyarakat Kundur Barat, semangat untuk berubah menjadi lebih baik.

Pawai obor 1 Muharam 1448 H di Sawang telah sukses memberi warna tersendiri. Tradisi lokal ini membuktikan bahwa menyambut masa depan yang maju dan sejahtera tidak harus dilakukan dengan melupakan akar budaya, melainkan dengan merawatnya erat-erat, dimulai dari halaman masjid di kampung sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *