Kiriman Instagram Musik Audisi Musisi Indonesia Trendi 90-an Kolase Ungu_20260707_154020_0000

Ketua LPK Kepri I, Jantro Butar-butar. Foto: Istimewa

Karimun – Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) Kepri 1 mendesak pihak distributor untuk menghentikan sementara waktu peredaran produk bubuk minuman perasa saset menyusul insiden keracunan massal yang menimpa tujuh orang warga di Kecamatan Kundur Barat.

Ketua LPK Kepri 1, Jantro Butar Butar, menegaskan bahwa keselamatan konsumen adalah prioritas utama. Pihaknya berencana untuk segera turun langsung ke lapangan guna menelusuri akar permasalahan ini.

“Kami juga harus turun ke lokasi. Kalau memang sudah jelas, kami akan laporkan dan tindak lanjuti. Jika barang itu terbukti (bermasalah) setelah dicek masa kedaluwarsanya (expired), maka produk tersebut harus distop dahulu,” ujar Jantro.

Jantro menambahkan bahwa pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan uji laboratorium secara lebih detail.

“Jadi, barang yang diproduksi jangan didistribusikan dahulu. Dihentikan sementara,” tegasnya.

Peristiwa keracunan massal ini terjadi pada Rabu, 1 Juli 2026, dan menimpa tujuh pria dewasa warga Dusun III, Bukit Senang, Desa Gemuruh, Kecamatan Kundur Barat.

Insiden mendadak tersebut terjadi saat mereka tengah beristirahat setelah beraktivitas membuka lahan di wilayah setempat.

Awalnya, gejala muntah dan buang air besar (muntaber) diduga berasal dari bekal makanan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.

Dari total tujuh pekerja, enam orang menyantap makanan yang dibawa, sementara satu orang lainnya sama sekali tidak menyentuh makanan.

Meski tidak makan, satu warga tersebut tetap mengalami gejala mual, muntah, hingga diare hebat yang sama persis dengan enam rekan lainnya.

Kesamaan dari ketujuh pria ini adalah mereka sama-sama mengonsumsi minuman saset rasa buah instan (Jasjus) yang dilarutkan sebagai pelepas dahaga.

Fakta bahwa korban yang tidak makan tetap mengalami muntaber memperkuat dugaan kuat bahwa penyebab keracunan massal ini bersumber dari bubuk minuman saset atau air yang digunakan untuk melarutkannya.

Melihat kondisi para pekerja yang terus memburuk, ketujuh warga tersebut langsung dievakuasi ke Klinik PT Timah untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Beruntung, respons cepat dari tim medis membuat kondisi para korban dapat segera ditangani. Berdasarkan laporan, gejala yang dialami korban masuk dalam kategori sedang.

Setelah menjalani observasi intensif selama kurang lebih dua jam dan diberikan obat-obatan yang diperlukan, kondisi ketujuh warga tersebut dinyatakan mulai membaik dan stabil. Pihak klinik akhirnya memperbolehkan seluruh korban untuk pulang ke rumah masing-masing pada malam harinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *