Proyek Baru (40)

Kapal dikemudikan Azman ditemukan di tengah laut. Foto: Istimewa

Karimun – Pemandangan janggal mengejutkan para nelayan yang melintas di perairan Selat Durian, Kecamatan Moro, Kepulauan Riau, pada Selasa sore, 28 Juli 2026.

Sebuah kapal kayu ditemukan mengapung sendirian di tengah laut. Mesinnya masih meraung hidup, namun tak ada satu jiwa pun di atasnya.

Kapal tak berawak itu diketahui milik Azman (60), warga Desa Sanglar, Kecamatan Durai, Kabupaten Karimun. Pria lanjut usia tersebut kini dinyatakan hilang dan diduga kuat terjatuh ke laut saat kapalnya tengah melaju kencang.

Kisah ini bermula pada Selasa pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Azman berlayar sendirian dari Desa Sanglar menuju Moro dengan misi sederhana: membeli bahan bakar minyak (BBM). Namun, hingga sore hari menjelang malam, Azman tak kunjung pulang ke rumah.

Teka-teki keberadaannya baru terkuak sekitar pukul 17.00 WIB ketika nelayan lokal menemukan kapalnya terombang-ambing tanpa pengemudi.

Skenario terburuk menduga korban terpeleset atau kehilangan keseimbangan hingga jatuh terlempar ke perairan Selat Durian titik lokasi yang berjarak sekitar 24,2 mil laut dari Pos SAR Tanjung Balai Karimun.

Pihak keluarga yang cemas akhirnya resmi melapor ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Tanjungpinang pada Rabu 29 Juli 2026 pukul 06.40 WIB.

Tanpa mengulur waktu, tim SAR gabungan langsung menerjunkan armada penuh untuk menyisir luasnya lautan.

“Kami bergerak cepat berkoordinasi dengan Pos SAR Tanjung Balai Karimun dan menerjunkan tim rescue ke lokasi untuk menggelar operasi pencarian marathon,” ungkap Kepala Kantor SAR Kelas A Tanjungpinang, Fazzli.

Untuk menembus ganasnya Selat Durian, Basarnas menyiagakan lima personel khusus lengkap dengan Rigid Inflatable Boat (RIB), armada darat, alat komunikasi canggih, hingga peralatan evakuasi air.

Tak bekerja sendiri, penyisiran skala besar ini melibatkan kekuatan penuh gabungan dari Pos SAR TBK, Polairud, Lanal Tanjung Balai Karimun, KSOP, serta puluhan nelayan lokal yang sangat mengenal lekuk perairan tersebut.

Kapal-kapal niaga dan penumpang yang melintas di jalur Selat Durian pun diminta pasang mata ekstra.

Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi para pengguna jasa laut. Fazzli kembali menegaskan betapa krusialnya alat keselamatan diri saat beraktivitas di perairan, sekecil apa pun jarak yang ditempuh.

“Kami mengimbau keras seluruh masyarakat dan nelayan untuk tidak meremehkan laut. Selalu gunakan jaket pelampung (life jacket) saat berlayar. Bagi kapal atau warga yang melihat tanda-tanda keberadaan korban, harap segera melapor ke petugas,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih terus berpacu dengan waktu menyisir setiap sudut perairan Selat Durian demi menemukan titik terang keberadaan Azman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *